Agama Laku dan Agama Dogma -AgamaBali #1

“Jangan sampai sibuk bertuhan membuat kita lupa menjadi manusia”

Agama dalam pandangan modern sering kali dikecilkan artinya pada pemujaan semata. Menjadi orang yang beragama diartikan dengan memuja sosok illahi tertentu, mengimani kitab suci tertentu, dan memegang keyakinan tertentu. Karakteristik beragama seperti ini sering kali muncul sebagai perdebatan di sosial media soal siapa, di mana dan bagaimana pemujaan dilakukan – plus kitab apa yang melandasinya. Agama bagi mereka adalah soal keyakinan, bukan soal perilaku berkehidupan.

Agama-agama dalam tradisi Dharma mengedepankan kebalikannya. Bukan apa kitabnya, siapa Tuhannya, di mana memujanya yang penting, namuan bagaimana cara hidupnya. Jiwa dari agama dalam tradisi Dharma (setidaknya dalam Tradisi Hinduisme) adalah konsepsi Karma-phala. Secara sederhana, karma berarti “gerak”, baik itu gerak batin maupun gerak kehidupan kita. Dengan demikian, menjunjung kitab suci, memuja tuhan dan aktifitas religi lain adalah urusan kesekian – faktor utama yang menentukan adalah gerak kehidupan orang itu sendiri, pada karma yang dilakukan.

Tentu saja, ada sisi bhakti yang mengedepankan pemujaan. Ada banyak cerita tentang keutamaan bhakti pada istadewata masing-masing. Namun, bhakti bukan lah sebuah “pemujaan berdisiplin”, melainkan pengkondisian bathin dalam cinta – artinya sebuah cara menata gerak batin agar memunculkan keterhubungan dengan Bhatara. Dengan kata lain, bhakti adalah soal “penataan laku”.

Istilah tepat untuk “agama” dalam konteks Hinduisme adalah “dharma”. Beragama sama dengan ber-dharma. Kata dharma sendiri memiliki banyak terjemahan, salah satunya adalah “tatanan” – baik itu tatanan batin, perilaku dan tatanan kosmik. Melakukan dharma berarti menata diri seutuhnya.

Bagi saya, ini adalah cara beragama yang dewasa – tidak manja bergantung pada entitas ini itu, namun menyerahkan tanggung jawab pada diri sendiri. Ini juga perbedaan orang yang benar-benar beragama dengan yang merasa beragama. Merasa beragama hanya lah cara memanjakan ego agar merasa lebih suci dan lebih spesial, padahal tidak melakukan apa yang diajarkan dalam agama tersebut.

Bahkan dalam tradisi Yoga yang mementingkan proses meditatif pun ditekankan penataan laku – yang mana penataan laku ini adalah fondasi dari yoga (yama dan niyama). Belum lagi berbagai aturan perilaku yang perlu ditaati oleh seorang yogi. Jadi, meditasi saja tidak cukup – cara hidup yang sesuai perlu dikondisikan.

Jadi jika disimpulkan, ada dua cara beragama; agama yang menekankan pada keyakinan dan agama yang menekankan pada kelakukan. Jadi, kalau ada yang mengatakan “agama Hindu harus berdasar Weda” (sebagaimana banyak diungkapkan sekarang), sama saja dengan mengatakan, “Agama Hindu harus berdasarkan kelakukan yang baik dan batin yang baik”. Jika Weda didogmakan dan disebarkan dengan batin dan kelakukan yang tidak baik, sama saja dengan meludahi Weda itu sendiri.

Sama juga dengan mengatakan, “Saya beragama cara Bali bukan cara Weda (India)” (sebagaimana sering diungkap sahabat pecinta ajaran leluhur) – artinya mengatakan, “saya ingin berbatin dan berkelakukan baik”.

Agama-agama dalam Tradisi Dharma, sedari jaman Weda sampai Jaman Keemasan Tantra, juga Buddhisme dan Jaina, baik itu di India, Tibet, maupun Nusantara, semua menekankan pada tatanan laku, bukan dogma. Mempertengkarkan keyakinan sampai gondok-gondokan adalah bentuk penghinaan dan penghianatan pada Dharma itu sendiri.

Silahkan Share Tulisan Ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silahkan Masuk untuk mengakses materi eksklusif Gocara

Belum jadi member? Silahkan daftar di sini

Dukung Gocara

Berkembang Lebih Pesat

Dukung kami mengembangkan Pasraman Online Gocara dengan menjadi member atau melalui donasi anda.

Silahkan Isi Form dan Pilih Metode pembayaran anda

PERHATIAN: Nomor Virtual Account Pembayaran Hanya Berlaku Selama 24 Jam

Sudah jadi member? Silahkan Login