Beragama, Memuja, Beryoga, dan Berkehidupan

Salah satu karakteristik sebuah agama adalah pemujaan. Bahkan, agama diidentikkan dengan pemujaan. Beda agama, beda yang dipuja, beda cara memujanya, dan beda pula hubungan antara pemuja dan pujaanya dipandang. Secara kolektif, entitas atau ide yang dipuja oleh orang-orang beragama disebut dengan Tuhan. Beda agama, beda nama Tuhannya.

Dalam “Hinduisme” yang adalah sekumpulan agama (bukan sebuah agama), maka ada sangat banyak cara memuja. Sebutan untuk entitas yang dipuja pun berbeda-beda antara satu ajaran dengan ajaran lain. Para Śaiva (penganut Agama Śiva) memuja Śiva sebagai adidevata-nya; para Vaiṣṇava (Penganut Agama Viṣṇu) memuja Viṣṇu atau manifestasi-Nya; para Śakta (penganut Agama Śakti) memuja dewi-dewi seperti Durga, Kali, Bhairavi, dan manifestasi lainnya; sementara para Brahmana/ Vaidika (penganut Agama Veda) di jaman Veda, memuja dewa-dewa Veda (Indra, Agni, Surya, Soma, dan seterusnya).

Jadi, dalam agama-agama rumpun Hindu (Tradisi Dharma), ada beragam sub-agama; dengan beragama cara memuja, atau bahkan tidak  melibatkan pemujaan dalam aktifitas keagamaanya. Ada aspek Hinduisme yang mengedepankan ritual eksternal untuk memuja “yang di atas”, dan ada pula yang mengedepankan aspek pengolahan kesadaran untuk mengalami pujaan “yang di sini”.

Di Bali sendiri pemujaan merupakan aspek dominan dari cara beragama masyarakat luas. Kata Bali sendiri berarti ritual, dan ritual tentunya melibatkan pemujaan. Meski tentu saja, ritual tidak selalu berarti (dan melibatkan) pemujaan; misalkan Caru bukan lah untuk memuja Bhuta-kala, namun untuk mentransformasi tatanan ruang-waktu. Sementara ritual adalah cara beragama yang kita saksikan di masyarakat, jika di baca dalam berbagai manuskrip lontar (Tattwa), maka yang mendominasi adalah tatanan melakukan yoga – aktifitas meditatif.

Di Bali, sering kali ritual, pemujaan dan yoga berjalan beriringan. Karenanya, artikel ini ditulis sebagai pengingat agar jangan agama di Bali sekedar dianggap sebagai “cara memuja” ala Bali. Sebaliknya, melihat bagaimana pemujaan eksternal dan internal, bagaimana Puja, Yajna dan Yoga berjalan beriringan—dan jangan sampai dominasi salah satunya membuat kita lupa dengan yang lainnya.

Dalam Buku Ilmu Tantra Bali Volume Ke-2, disebutkan istilah “kembang yang tak layu (puspa tan alum/ kembang tan alum). Kembang yang tak pernah layu ini lah yang merupakan “persembahan utama” untuk Yang Illahi. Namun bunga ini tumbuhnya di taman kesadaran – tumbuh saat sang pemuja menyadari bahwa ia adalah satu dan tunggal dengan yang dipujanya.

Jika diamati, istilah ini sedang menyampaikan pesan secara eksplisit untuk melakukan olah kesadaran (di dalam diri), bukan hanyut dalam pemujaan di luar diri. Alasannya, tentu karena Sang Pujaan Sejati ada di dalam diri dan di dalam diri pula keberadaanya bisa dialami. Begitu Pustaka Bhuwana Kośa menasehatkan. Śiwa atau Mokṣa bukan lah entitas yang ada di Gunung Kailash sana, bukan pula ada di patung-patung dan kuil-kuil. Dia adalah kondisi kesadaran yang bisa dialami di dalam hati, saat kesadaran bisa ditata dan diputar (hamuter tutur).

Pustaka berkatagori tattwa lain, yaitu Sang Hyang Mahajnana dan Ganapati Tattwa memberikan perbandingan terkait pentingnya melakukan puja di dalam diri. Ribuan Lingga dari emas kalah oleh sebuah lingga dari permata. Namun, ribuan lingga permata pun tak sebanding dengan lingga yang ada di dalam diri. Karenanya disebutkan bahwa memuja Lingga di dalam diri (swalingga) jauh lebih mulia dibandingkan memuja Lingga di luar (bahyalingga).

Ribuan Lingga dari emas kalah oleh sebuah lingga dari permata. Namun, ribuan lingga permata pun tak sebanding dengan lingga yang ada di dalam diri. Karenanya disebutkan bahwa memuja Lingga di dalam diri (swalingga) jauh lebih mulia dibandingkan memuja Lingga di luar (bahyalingga)

Selanjutnya, terkait puja di dalam diri, sarana yang dipakai pun berbeda dengan melakukan puja di luar diri. Misalkan saja, teks Ganapati Tattwa menyebutkan, bahwa melalui pranayama dengan 14 Bhija Akṣara suci lah pemujaan di dalam diri dilakukan. Artinya, memuja di dalam dilakukan melalui Pranayama (olah prana melalui nafas). Sementara itu dalam Lontar Tattwajnana dituliskan, bahwa puja sejati adalah puja melakukan Homa (Puja Api) di Kunda dalam diri, yaitu membakar karma baik dan buruk dan meneguhkan kesadaran yang bening (sphaṭikajñāna). Hampir senada dengan analogi tersebut, dalam teks-teks lain pun disinggung, bahwa api pemujaan yang paling mulia adalah Ongkāra, lalu kayu bakarnya adalah tubuh dan mental dengan segala kekotorannya. Melakukan pemujaan berarti mengobarkan Api Ongkāra ini.

api pemujaan yang paling mulia adalah Ongkāra, lalu kayu bakarnya adalah tubuh dan mental dengan segala kekotorannya.

Metafora dari teks-teks ini selain menasehatkan pentingnya pemujaan di dalam diri, juga mengimplikasikan bahwa yang dimaksud Yoga sebenarnya adalah puja di dalam diri – melakukan olah kesadaran. Dalam artikel mengenai Banten Sebagai Yantra juga telah disampaikan, bahwa berbagai sarana ritual di Bali pun adalah wahana yang mengantarkan pada perjalanan menata kesadaran – perjalanan ke dalam diri.

Yang dimaksud Yoga sebenarnya adalah puja di dalam diri – melakukan olah kesadaran

Lalu, apakah itu berarti puja di luar diri (di Pura dan tempat-tempat suci lain) tidak penting?

Apa itu berarti ritual-ritual dan pemujaan eksternal tidak memiliki arti?

Tentu saja tidak.

Catatan penting yang hendak digarisbawahi dalam artikel ini adalah; jangan sampai kita hanya sibuk dengan pemujaan di luar, lalu lupa melakukan penataan kesadaran. Sebaliknya, jadikan segala ritual eksternal sebagai pengantar perjalanan ke dalam. Ritual dan pemujaan eksternal di tempat-tempat suci luar memiliki fungsi pentingnya sendiri. Bukan hanya secara spiritual, namun juga secara sosial dan psikologis.

Mpu Kaṇwa menembangkan dalam Kakawin Arjuna Wiwaha bahwa Puja dilakukan secara eksternal (wahya) dan internal (ādhyatmika). Alasannya, karena Bhatara yang dipuja bersifat sakala dan niṣkala. Alam dan kehidupan tidak lain merupakan aspek sakala dari Bhāṭara, yang dipuja secara eksternal. Sedangkan aspek halusnya (niṣkala) bisa dialami dengan melakukan yoga—menata kesadaran.

Namun implikasi lain dari istilah indah Mpu Kanwa ini adalah, aspek sakala Bhāṭara pun tidak lah hanya ada di Pura atau Kuil, tidak hanya diwujudkan dalam Arca. Jika kehidupan dan seluruh aspek di dalamnya adalah aspek sakala dari Bhatara, maka puja pun hendaknya dilakukan pada aspek-aspek riil dari kehidupan. Sebut lah seperti Arjuna dalam kisah Kakawin Arjuna Wiwaha; dia memuja keluarganya dengan sarana pengabdian dan tanggung jawab, dia memuja kecantikan para bidadari, dan bahkan setelah meninggalkan hutan pertapaan pun dia bersembah pada hutan dengan penuh penghormatan dan terimakasih. Jika disederhanakan, Arjuna yang memuja Bhatara secara Wahyadhyatmika melakukannya secara pragmatis dan sistematis.

Dalam pembahasan-pemabahasan mengenai yoga sendiri pun tidak lah selalu hanya membahas mengenai olah kesadaran dalam artian olah rasa dengan duduk meditasi. Yoga dibangun di atas fondasi bernama sila –yaitu olah perilaku dan sikap terhadap diri sendiri, orang lain, dan seluruh kehidupan. Dengan kata lain, yoga mengedepankan aspek pragmatisnya juga. Hal ini tentu mengakar pada prinsip bahwa Agama di Bali bukan lah “agama iman” namun “agama laku” – sehingga yang dikedepankan bukan apa yang diyakini namun apa yang dilakukan.

Agama di Bali bukan lah “agama iman” namun “agama laku” – sehingga yang dikedepankan bukan apa yang diyakini namun apa yang dilakukan

Sebagai kesimpulan, jalan-jalan di luar jangan sampai membuat kita melupakan yang ada di dalam. Demikian pula berjalan ke dalam jangan sampai membuat kita lupa dengan apa yang ada di luar. Karena tujuan dari perjalanan tersebut adalah merealisasikan yang ada di dalam dan di luar sekaligus yang melampaui semua keberadaan tersebut. Beragama, memuja, beryoga dan berkehidupan adalah satu kesatuan utuh.

Silahkan Share Tulisan Ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silahkan Masuk untuk mengakses materi eksklusif Gocara

Belum jadi member? Silahkan daftar di sini

Dukung Gocara

Berkembang Lebih Pesat

Dukung kami mengembangkan Pasraman Online Gocara dengan menjadi member atau melalui donasi anda.

Silahkan Isi Form dan Pilih Metode pembayaran anda

PERHATIAN: Nomor Virtual Account Pembayaran Hanya Berlaku Selama 24 Jam

Sudah jadi member? Silahkan Login

error: Alert: Content is protected !!