Menjadi Pertapa Selama 10 Menit

Terkadang meditasi bisa sangat sulit dilakukan. Niatnya untuk duduk memfokuskan pikiran, jadinya malah pikiran menerawang ke sana sini. Banyak hal tiba-tiba terpikirkan, kenangan masa lalu muncul ke permukaan, perasaan tidak menentu. Kadang meditasi juga menjadi sulit saat kita baru saja menjalani hari yang berat; berbagai dinamikanya terbawa sampai duduk meditasi, lalu kita sibuk memikirkan berbagai hal yang perlu dilakukan. Intinya, kadang meditasi bisa sulit dilakukan jika batin sedang terbawa oleh banyak urusan duniawi yang belum selesai dan perlu dituntaskan.

Pada momen demikian, kita mungkin perlu mengakali diri, dengan berpura-pura menjadi pertapa selama duduk bermeditasi tersebut. Seorang pertapa adalah orang yang tidak melibatkan diri dengan (atau pun perduli terhadap) urusan duniawi. Dia sepenuhnya lepas dari berbagai urusan. Dia hanya menikmati keberadaanya – bermeditasi dan menyelam ke kedalaman diri; tidak ada deadline yang mengejar, tidak ada urusan yang perlu dibereskan. Semua urusan duniawi seolah sedang saya tinggalkan di kota, dan saya sedang duduk di hutan, bebas dari semua itu.

Selama 10 menit tersebut, kita belajar melepaskan diri dari keduniawian, layaknya seorang pertapa.

Setiap hari ada yang harus dilakukan. Selalu ada hal yang perlu dipikirkan. Selalu ada keputusan yang perlu diambil. Selalu ada masalah yang perlu diurus. Semua dinamika tersebut lah yang membentuk kehidupan kita. Melepaskan diri dari semua itu selama 10 atau 30 menit setiap hari bukan lah bentuk pelarian, sebab kita tidak benar-benar meninggalkan semua perkara tersebut.

Kita hanya menepi sejenak, mengumpulkan kekuatan dan kejernihan untuk kemudian digunakan mengatasi semua perkara itu dengan lebih baik. Seperti bertapanya Arjuna; dia tidak menjadi pertapa permanen di hutan dan meninggalkan kewajibannya sebagai ksatria. Dia hanya menepi sejenak, beryoga dan mengumpulkan kekuatan (yang disimbolkan dengan Panah Pasupati) yang kemudian akan dipakainya untuk menuntaskan kewajibannya sebagai ksatria secara lebih baik.

Kadang kita terlalu asik dengan semua urusan kehidupan kita, sampai-sampai kita terseret arus terlalu jauh dan tenggelam terlalu dalam. Di momen seperti itu, kita sudah tentu kehilangan kemampuan untuk mengatasi masalah tersebut secara bijak. Dengan batin yang keruh, bukannya menyelesaikan malah kita akan memperparah masalah. Dengan batin yang lemah, beban kecil akan terasa sangat berat. Karenanya, menepi untuk mengumpulkan kejernihan dan kekuatan sejenak bisa jadi ide yang patut dicoba.

Silahkan Share Tulisan Ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silahkan Masuk untuk mengakses materi eksklusif Gocara

Belum jadi member? Silahkan daftar di sini

Dukung Gocara

Berkembang Lebih Pesat

Dukung kami mengembangkan Pasraman Online Gocara dengan menjadi member atau melalui donasi anda.

Silahkan Isi Form dan Pilih Metode pembayaran anda

PERHATIAN: Nomor Virtual Account Pembayaran Hanya Berlaku Selama 24 Jam

Sudah jadi member? Silahkan Login

error: Alert: Content is protected !!