Mindset Para Pertapa untuk Manusia Modern

tuhaburu tĕmahan mong saktêng satwa dahat ikā
tuharawa wuhayêkân dadyān ing dṛḍha ring iwak
sakatilinga ning ambĕk tan wyarthân dadi kapitūt
taya mara ya katṛṣṇan byaktêkang taya katĕmu

Pemburu berubah menjadi macan karena obsesinya terhadap binatang buas,
Nelayan berubah menjadi buaya akibat kecintaanya terhadap ikan.
Ke mana hati terdorong ke sana lah ia akan hanyut.
Jika pada Ketiadaan dia mengarah Ketiadaan pula yang akan ditemukannya.

Kakawin Arjuna Wiwaha

Cara Hidup dan Cara Pandang Para Pertapa

Para yogi, para pertapa, para pendeta, mereka sering kali disebut sebagai sang sewaka dharma – mereka yang mengabdikan hidup untuk dharma. Dalam konteks ini, dharma yang mereka hendak jadikan tuan adalah dharma-kapatyan (jalan kematian). Mereka hendak menapaki “jalan mati yang benar” – yaitu bagaimana kembali pada Sang Kesejatian. Dharma mereka tentu berbeda dengan dharma yang kita, manusia biasa, jalankan. Kita menjalankan dharma kahuripan, yaitu “jalan kehidupan.”

Sebagai manusia biasa, kita adalah manusia duniawi. Artinya, yang kita jadikan fokus utama adalah kehidupan dunia dengan berbagai dinamika dan tanggung jawab yang menyertainya. Manusia duniawi juga cenderung menjadi manusia materiil. Kita menjadikan materi sebagai acuan – mulai dari jumlah saldo rekening, pernak-pernik mewah, gadget canggih, mobil mentereng, dan sebagainya. 

Hal ini berbeda dengan Sang Pengabdi Dharma yang malah sedang di tahap berusaha melepaskan semua kepemilikan dan keinginan material, lalu hanya berfokus pada olah rohani. Tentu saja, mereka “melepaskan” karena mereka sudah “tuntas” dengan semua itu. Idealnya, mereka sudah melalui tahap kehidupan material, dan kini memasuki jenjang kehidupan berikutnya, yaitu kehidupan rohani.

Meskipun kita masih duniawi dan material, masih menjalani dharma kehidupan, namun banyak pelajaran bisa diambil dari mereka yang sudah menapaki jalan kematian tersebut. Tentu saja, jalan ini kemudian bisa kita pakai untuk bekal menjalani hidup. Semoga bekal ini bisa membuat kita hidup dengan lebih bahagia.

Yang Salah Dari Keduniawian

Kehidupan duniawi tidaklah salah. Ini hanya sebuah fase hidup yang kita jalani. Namun, selayaknya seorang nelayan yang kemudian tenggelam di danau tempatnya memancing ikan, demikian pula kita sebagai manusia duniawi sering tenggelam dalam materialisme. Istilah “materialisme” di sini mengacu pada paham dan keyakinan bahwa semua yang ada dan satu-satunya hal yang penting adalah materi/ benda. Istilah lain, berpaham kebendaan. 

Tentu saja, hal-hal materiil adalah hal yang nyata ada dalam kehidupan kita. Tentu saja, uang adalah elemen penting dalam kehidupan duniawi. Agar bisa mendapat pendidikan layak, kita perlu bersekolah, dan itu membutuhkan uang. Agar bisa sembuh, berobat membutuhkan uang, agar bisa menikmati kenyamanan dan hiburan, semua membutuhkan uang. Belum lagi, untuk memiliki gadget terbaru, outfit branded, dan hal-hal sejenis yang tidak murah.

Karena krusialnya peranan uang dan materi lain dalam kehidupan, maka kita mulai berpikir bahwa hanya semua itu lah yang penting. Kita jadi berpikir, bahwa jika jumlah uang di rekening sedikit, maka kita tidak akan bisa bahagia, jika tidak bisa membeli smartphone terbaru, maka kita tidak akan bisa senang, jika tidak bisa menempelkan berbagai barang bermerek di tubuh, maka kita tidak akan menjadi manusia yang layak.

Terlebih lagi, di jaman sosial media yang dibanjiri konten flexing (menyombongkan kepemilikan). Ada dua anak yang membeli nasi goreng seharga ratusan juga dan dengan rajin mempertontonkan tumpukan uang. Konten-konten Youtube yang mempertontonkan rumah mewah selayaknya istana. Belum lagi berbagai akun yang dengan rajin menunjukkan betapa bahagianya mereka karena kepemilikan benda-benda mahal dan gaya hidup mewahnya. Mungkin mereka yang tidak mampu memiliki semua itu kemudian berpikir, mereka tidak akan bisa bahagia dan menikmati kehidupan karena tidak memiliki semua itu.

Demikian seterusnya, kita mendefinisikan diri berdasarkan materi yang kita miliki, dan bahkan mendefinisikan manusia lain berdasarkan materi yang mereka tunjukkan. Jika ada orang dengan rumah mewah, kita anggap mereka sudah pasti bahagia; demikian pula jika kita lihat di pinggiran seseorang hidup di rumah sederhana, kita anggap dia pasti hidup menderita. 

Penilaian dan pendefinisian materialistik ini bahkan jadi lebih jauh lagi saat kita mengelompokkan nilai manusia berdasarkan materi mereka. Bahkan kemudian memperlakukan manusia lain berdasarkan kepemilikan materialnya tersebut. Orang dengan gaji tinggi, harta melimpah, dan semua serba mewah otomatis dianggap memiliki derajat lebih tinggi, lebih mulia, lebih layak dihormati, dan lebih semua-semua. Mereka yang dianggap serba kekurangan (dari sisi kebendaan) kemudian dipandang remeh, kecil, dan hina. Mereka yang banyak memiliki kekayaan material, dijunjung tinggi, sedangkan yang dianggap tidak punya apa-apa, dianggap pula tidak memiliki arti. 

Hal ini tentu saja berakar dari cara kita memperlakukan diri sendiri. Saat kita “punya banyak” kita kemudian merasa layak dan memiliki rasa percaya diri, dan saat “kekurangan” kita kemudian memandang diri serba tidak pantas. Kita jadi lupa, bahwa dalam diri kita ada banyak sisi yang menjadikan kita manusia (intelektualitas, sikap mental, perilaku, kebiasaan, dan lain sebagainya). 

Yang salah dari cara pandang ini adalah, kita lupa memandang manusia dengan kemanusiaanya, melainkan dengan kebendaan yang ada di sekitarnya. Kita lupa memandang diri sendiri dan orang lain sebagai manusia dengan alasan kita dan orang lain memang manusia – karena kita selalu menjadikan kebendaan tersebut sebagai acuan.

Menjadi Pertapa Di Hutan Duniawi

Akhirnya, tentu saja kehidupan menjadi lebih sulit; sulit bahagia dan membahagiakan kalau belum punya itu dan itu, sulit dicintai dan mencintai kalau belum memiliki ini dan itu, dan seterusnya. Kita bukan hanya mendefinisikan diri berdasarkan kebendaan, namun mendefinisikan seluruh kehidupan dalam kerangka berpikir kebendaan tersebut. Meminjam istilah Filsuf Francis, Jean-Paul Sartre, ini adalah salah satu bentuk bad faith (mauvaise foi) – mengikatkan diri pada hal-hal di luar diri lalu menjadikannya definisi diri dan kehidupan.

Tentu saja, berbagai pustaka suci telah memberikan nasehat serupa, tentang bagaimana melepas kebendaan, terutama dalam konteks melepaskan semua hal yang dimiliki. Banyak nasehat terkait kelirunya mengikatkan diri pada kebendaan juga sudah diberikan sejak ribuan tahun lalu. Sayangnya, mungkin nasehat ini dimasukkan dalam klasifikasi “bukan untuk saya.” Ini adalah hal yang dilakukan para pertapa, jadi kita tidak perlu menerapkannya.

Tentu saja kita tidak perlu menerapkan kehidupan anti-duniawi layaknya seorang pertapa hutan, jika kita nyatanya masih memiliki banyak tanggung jawab duniawi. Namun, baik mereka yang menapaki kepertapaan maupun keduniawian sama-sama menginginkan kebebasan.

Dalam konteks kehidupan kita (non-pertapa), setidaknya kebebasan tersebut diupayakan dengan melepaskan pola pikir yang mengkultuskan kebendaan, tanpa menyangkal arti penting materi dalam kehidupan duniawi.

Bekerja untuk memiliki berbagai fasilitas hidup yang layak, nikmati hal-hal menyenangkan, beli sesuatu yang membuat bangga, dan lakukan apapun yang memuaskan. Namun, jika semua itu sudah mulai menjadi kabut yang menutupi seluruh cara pandang kita, maka semua keindahan lain jadi lenyap dari pandangan.

Kebendaan (artha) dan pemuasan keinginan (kama) adalah satu dari 4 tujuan berkehidupan selain dharma (menuntaskan kewajiban hidup) dan moksha (mencapai pembebasan dari semua ikatan). Mungkin keempat tujuan hidup ini tidak harus dilihat berdasarkan tahapan umur, namun dijalankan secara beriringan, seperti empat roda yang dibutuhkan oleh sebuah mobil untuk terus melaju.Sekali lagi, tulisan ini tidak dibuat untuk mengecilkan arti materi, apa lagi menganjurkan untuk melepaskannya secara serampangan. Tulisan ini hanya mengingatkan hal-hal yang yang terlupakan karena dominasi pemikiran kebendaan.

Antara Memiliki dan Menjadi

Mungkin, selain apa yang kita miliki, hal yang juga perlu direnungkan adalah menjadi apa kita dalam proses menjalani kehidupan. Hidup dengan berbagai permasalahannya mungkin mengundang kita berpikir, merasa, dan bersikap dengan cara-cara tertentu, cara-cara baru yang jauh dari cara sebelumnya kita memandang diri sendiri. Mungkin kehidupan membuat kita menjadi manusia berbeda karena obsesi memiliki. Kemudian, ada di suatu titik kita memiliki banyak hal, namun kehilangan diri kita sendiri.

Seiring bertambahnya usia, semakin banyak tantanngan yang kita hadapi dalam kehidupan. Di setiap momennya kita akan dipaksa untuk berpikir, merasa, dan bersikap dengan cara-cara tertentu sebagai respon terhadap keadaan tersebut. Tidak jarang pula, cara-cara baru yang awalnya membuat kita merasa terpaksa kemudian lama-lama kita jadi terbiasa. Perjalanan hidup kita untuk berusaha memiliki ini dan itu, mencari ini dan itu kemudian akan membuat kita menjadi orang baru — entah orang yang lebih baik atau sebaliknya.

Bekerja keras sampai lupa diri demi memiliki, lalu menjadi sakit-sakitan karena tubuh dan pikiran yang dipaksakan. Terobsesi memiliki ini dan itu, lalu menjadi orang yang menderita. Punya lebih banyak hal dari sisi kebendaan, namun menjadi lebih miskin dari sisi kedamaian hati, bahkan miskin dari sisi kemanusiaan (misalkan: semakin tidak memiliki empati terhadap orang lain, karena yang dipentingkan hanya diri sendiri).

Karena kita berpikir bahwa diri dan hidup adalah sebatas pada kebendaan saja, maka fokus pikiran kita adalah berusaha mencari, memiliki, dan menumpuk kebendaan tersebut.Jangan sampai, kita semakin banyak memiliki, namun malah semakin kehilangan.

Langkah Awal Kebebasan

Para Pertapa membebaskan diri dari kebendaaan dengan secara harfiah melepaskan kehidupan duniawi. Seperti Para Pandawa yang melepaskan semua pencapaian dan kepemilikan duniawinya dengan menyepi ke gunung. Namun, untuk kebanyakan dari kita hal ini mungkin tidak bisa dilakukan, dan memang tidak selamanya perlu dilakukan. Kalau menut teks-teks mistik di Bali, tubuh pun adalah gunung.

Dalam kehidupan duniawi, kita bisa mengadopsi cara-cara para pertapa ini dengan berhenti menjadikan cara-cara pikir kebendaan (mencari, memiliki, mengumpulkan berbagai hal) sebagai satu-satunya penentu dalam kehidupan. Kita mulai memikirkan hal-hal yang non-material, seperti hati. Kehidupan duniawi dijalani sebagai cara menata hati, dengan tetap memperlakukan hati kita dan hati orang lain secara hati-hati.

Namun, satu hal yang perlu saya garisbawahi adalah, tulisan ini bukan lah sebuah pandangan anti-materi atau anti-duniawi. Karenanya, jangan sampai tulisan ini disimpulkan demikian, apa lagi sampai dijadikan pembenaran untuk lari dari tanggung jawab kehidupan atas nama idealisme spiritual. Jika meminjam senandung Mpu Kanwa dalam Kakawin Arjuna Wiwaha sebelumnya, kita bisa saja menjadi pemburu tanpa harus berubah menjadi macan; kita bisa saja menjadi nelayan, tanpa harus berubah menjadi buaya.

Pemikiran anti keduniawian dan anti materi bisa menjadi penjara baru. Karenanya, kita pun perlu berhati-hati terhadapnya. Sering kali, karena upaya mencari dan memiliki yang tidak berhasil, lalu kekecewaan menumpuk di batin. Akibatnya, ego berusaha mengatasi rasa sakit hati dengan menganggap semua itu tidak penting — seperti seorang anak kecil yang kemudian menjelekkan apa pun yang tidak bisa dimilikinya.

Silahkan Share Tulisan Ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silahkan Masuk untuk mengakses materi eksklusif Gocara

Belum jadi member? Silahkan daftar di sini

Dukung Gocara

Berkembang Lebih Pesat

Dukung kami mengembangkan Pasraman Online Gocara dengan menjadi member atau melalui donasi anda.

Silahkan Isi Form dan Pilih Metode pembayaran anda

PERHATIAN: Nomor Virtual Account Pembayaran Hanya Berlaku Selama 24 Jam

Sudah jadi member? Silahkan Login

error: Alert: Content is protected !!