Pagĕr Wĕsi, Kemapanan Hidup, dan Keteguhan Diri

Dalam tulisan ini kita akan membahas Pagĕr Wĕsi dalam konteks “kemapanan hidup” dan “keteguhan diri”. Hari Pagĕr Wĕsi merupakan salah satu hari suci di Bali yang jatuh setiap 6 bulan sekali. Sebagaimana layaknya dalam hari suci, maka ritual akan digelar dengan berbagai bantĕn. Hari Pagĕr Wĕsi juga dibentuk oleh rangkaian hari sebelumnya. Karenanya, memahami hari Pagĕr Wĕsi bisa dilakukan dengan memahami rangkaian hari yang membentuknya, juga dengan melihat rangkaian ritual dan bantĕn yang dipergunakan.

Pemahaman dimaksud adalah terkait makna yang dikandung dalam Hari Suci Pagĕr Wĕsi. Makna yang berhasil disarikan kemudian bisa dipakai sebagai cerminan menjalani kehidupan, sebagai cerminan dan pesan para leluhur untuk generasi kita saat ini. Sumber referensi utama sebagai referensi terkait hari-hari suci dan ritualnya adalah Lontar Sundarigama.

Sebuah hari suci atau hari raya umumnya dilihat sebagai “hari untuk melakukan persembahyangan”. Tentu saja hal ini benar, namun mungkin ini cara pandang “religius” yang malah menyempitkan makna dalam hari suci itu sendiri. Sebagaimana nanti bisa disimak, Hari Pagĕr Wĕsi (dan tentunya hari suci lain) memiliki pesan-pesan yang lebih dari sekedar “datang ke tempat suci, sembahyang, lalu selesai”. Ada pesan kehidupan yang perlu untuk diaktualisasikan, untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Tentang Hari Pagĕr Wĕsi

Wuku pertama dalam siklus Kalender Jawa-Bali adalah Wuku Sinta. Pada hari pertama Wuku ini, pada Hari Senin Pon disebut Hari Soma Ribĕk. Selain bermakna “Hari Senin,” soma adalah sebutan untuk nektar kehidupan, istilah lain untuk Amṛtha [Air Suci Keabadian]. Dalam Kamus Bahasa Bali, kata amerta berati “anugerah”, sehingga Soma Ribĕk berarti “penuh (bĕk) dengan anugerah”.

Disebutkan dalam Lontar Sundarigama bahwa pada hari ini, “Turun Sanghyang Sri Amertha,” Ritual difokuskan pada lumbung padi, pulu, dan sejenisnya. Hal ini menyiratkan keterkaitan hari Soma Ribĕk dengan “pangan.”

Berikutnya, pada Hari Selasa Wage, Wuku Sinta, disebut sebagai Hari Sabuh Mas. Kata sabuh berarti “percikan” dan “hujan”. Jadi Sabuh Mas bisa diartikan sebagai “hujan emas”. Pada hari ini lah harta benda “disembahyangi”. Hari ini bisa dilihat sebagai hari “ketahanan finansial.”

Baru pada hari Rabu Kliwon, Wuku Sinta adalah hari Pagĕr Wĕsi. Kata pagĕr berarti “pagar” dan wĕsi berarti “besi”. Pagar dari besi menyiratkan kekuatan dan keteguhan. Pagar berkaitan dengan perlindungan dan pembatasan. Karenanya, Pagĕr Wĕsi berarti perlindungan yang kuat dan teguh.

Apa yang dilindungi? Dari siapa? Apakah pagar tersebut membatasi yang di dalam agar tidak ke luar atau yang di dalam tidak sembarangan masuk?

Disebutkan dalam Lontar Sundarigama, pada hari ini Sang Hyang Parameṣṭhi Guru “beryoga” bersama dengan Dewata Nawa Sanga [Dewa Sembilan Arah Mata Angin]. Dari yoganya kemudian memunculkan semua mahluk yang ada.

Salah satu bantĕn yang digelar pada ritual hari ini adalah sasayut. Kata sayut berarti “menahan” dan “mencegah”. Makna yang sama dengan kata yang diwakilkan oleh kata “pagar”. Salah satu sasayut-nya adalah Sasayut Pagĕh Hurip. Kata pagĕh berarti “teguh, kukuh, konstan, stabil”. Sedangkan kata hurip berarti, “kehidupan” juga berarti “hal yang memberi kehidupan”. Karenanya sebutan Sang Jiwa yang memberi hidup pada manusia juga disebut Sang Hyang Hurip, istilah lain untuk Sang Hyang Ātma.

Sedangkan bantĕn untuk di Sanggah Kamulan adalah; Daksina, Suci, Pras, Panyeneng, Sasayut Pañca Lingga, dan lainnya. Sedangkan untuk Pañca Maha Bhūta dipergunakan Segehan Pañca Warna dan Segehan Agung yang digelar di natar sanggah.

Jadi dalam ritual hari Pagĕr Wĕsi adalah tiga arah penyelenggaraan ritual; ke dalam (untuk diri sendiri), ke atas (di sanggah Kamulan) dan ke bawah (untuk Bhuta).

Menelusuri Makna Pagĕr Wĕsi

Dari ketiga arah ritual ini, sekaligus rangkaian hari sebelum hari Pagĕr Wĕsi bisa dibaca sebagai “pesan” yang menyiratkan elemen-elemen penting yang membentuk keteguhan manusia.

Mereka yang “teguh” dan “kokoh” dalam berkehidupan adalah mereka yang punya fondasi duniawi yang kuat (disimbolkan dengan Hari Soma Ribĕk dan Sabuh Mas). Keteguhan juga dibangun dengan tatanan harmoni antara diri, daya spiritual yang lebih tinggi sebagai penuntun (Sang Hyang Parameṣṭhi Guru) dan harmoni dengan aspek-aspek empiris pembentuk kehidupan (“Pañca Bhūta”). Dengan kata lain, keteguhan tidak terjadi begitu saja. Seperti sebuah pagar, jika ia mau berdiri kokoh maka bahan pembentuk dan cara membangunnya harus benar-benar diperhatikan.

Sasayut Pagĕh Hurip, Sasayut Pañca Lingga dan Sĕgĕhan Panca Warna adalah nama-nama bantĕn yang membentuk jalinan makna tersendiri. Panca Lingga secara sederhana berarti “Lima Stana”. Lingga adalah stana dari Bhaṭāra Śiwa (nama lain dari Bhaṭāra Guru).  Dalam keberfungsin-Nya “memberi hidup” lima lingga yang menjadi tempat berstana-Nya Bhaṭāra Śiwa adalah “lima nafas (pañca bayu). Karenanya, hurip bisa juga diterjemahkan sebagai “nafas”, sebagaimana bisa disimak dalam Pustaka Jñānasiddānta.

Keberadaan alam semesta pun dibentuk oleh lima elemen dasar yang disebut Pañca Mahā Bhūta. Jika dilihat dari sisi kosmogoni Kanda Mpat, kelima Bhūta ini menempati lima arah mata angin dengan warna putih (Timur), merah (Selatan), Kuning (Barat), Hitam (Utara), dan Lima Warna (Tengah). Kelimanya kemudian mewakili lima Bhūta-kala (aspek ke-raksasa-an) dan Lima Dewata.

Selain aspek Bhūta, Dewata, dan warna, kelima elemen ini juga memiliki “wujud akara”. Akṣara dalam Filsafat Bali yang bernafaskan Tantra adalah “tubuh” dari manusia, alam semesta dan Bhaṭāra. Dianjurkan pada Hari Pagĕr Wĕsi sang Pendeta melakukan mapasang lingga (menstanakan lingga), istilah lain untuk melakukan meditasi Akshara – me-nyasa-kan Akshara di tubuh untuk mentransformasikan tubuh personal menjadi universal dan transendental.

Pagĕr Wĕsi dan Yoga

Lontar Sundarigama menganjurkan pada malam hari Pagĕr Wĕsi agar dilakukan yoga. Selain memang, jika disimak dari makna hari Pagĕr Wĕsi cenderung mengarahkan pada praktik mistik – praktik yoga. Bukan sekedar ritual sebagai “pemujaan” semata. Tentu saja, dalam konteks Tantra praktik yoga kadang tidak lepas dari ritual, dalam artian pendagunaan bantĕn sebagai Yantra yang menjadi alat pendukung proses yoga.

Tujuan yoga-nya juga berkaitan dengan “keteguhan”, “ketahanan” dan “kekuatan”, baik dalam hal keduniawian maupun spiritual, eksternal maupun internal, secara sakala maupun nikala. Secara eksternal, faktor pembentuk keteguhan dan ketahanan bisa dilihat dari rangkaian Hari Pagĕr Wĕsi. Sedangkan secara internal bisa dilihat dari bantĕn dan laku yang dilakukan pada hari ini.

Dalam konteks ini dan dalam konteks yang lebih luas, yoga memiliki dua aspek. Pertama adalah yoga sebagai praktik meditatif, dan kedua yoga sebagai praktik penataan hidup (way of life). Sebagai praktik meditatif dalam Lontar Sundarigama telah ditegaskan peranan yoga sebagai mapasang lingga, dan secara lebih luas lagi sebagai proses pembersihan diri dan penyatuan dengan Bhaṭāra. Sedangkan dalam konteks berkehidupan, yoga-nya terkait dengan “memagari diri”, dalam artian memberikan batasan pada liarnya gejolak mental, emosional, dan inderawi.

Sebagaimana dijelaskan dalam teks-teks Tattwa, yoga adalah proses meneguhkan kesadaran. Dimulai dari menarik semua indera dari objek eksternal, lalu mendiamkan batin dalam objek meditasi. Dalam konteks ini, yoga adalah proses “memagari kesadaran”—menjadikan kesadaran teguh (pagĕh)—agar tidak terganggu oleh berbagai objek eksternal, juga tidak berkeliaran ke sana sini mengumpulkan penderitaan.

Pustaka Kumara Tattwa memberikan sebuah analogi bahwa manusia ibarat “penggembala (rare angon)”. Ada pun yang digembalakan adalah sepuluh ekor sapi, yang mewakili sepuluh indera. Disebutkan bahwa, sapi berarti pikiran yang tidak menyatu, menjadi liar dan tersesar sehingga menimbulkan penderitaan.

Agar gembalaan berupa pikiran dan indera itu tidak menjadi semakin liar maka dia perlu “dipagari” dengan sikap-sikap mulia. Berbagai “keinginan” dan “nafsu” juga perlu dipagari agar tidak tumpah ruah tak menentu. Praktik atau upaya “memagari diri” dengan pemikiran dan perilaku yang “benar” adalah fondasi dari yoga yang disebut brata. Dalam konteks ini, Pagĕr Wĕsi bisa dilihat sebagai pesan untuk mengendalikan liarnya pikiran dan objek-objek inderawi (eksternal). Sebab sebagaimana disebuatkan Lontar Kumarattwa, “batin yang memerintahkan untuk teguh, batin pula yang membuat kebimbangan”, dan keduanya tergantung dari bagaimana batin ditata.

Aktualisasi Makna Pagĕr Wĕsi dalam Keseharian

Keteguhan dan ketahanan dalam konteks rangkaian hari dan ritual Pagĕr Wĕsi bisa dimaknai sebagai nasehat untuk mengukuhkan “kemapanan”. Baik itu kemapanan eksternal maupun kemapanan mental. Kita tidak bisa ada dalam keteguhan dan ketahanan jika kita “kekurangan.” Kekurangan kebutuhan dasar (makan-minum) membuat kita goncang dan tidak menentu. Banyak orang bahkan melakukan tindak kejahatan atas nama “lapar.” Bukan hanya daya tahan mental, namun daya tahan tubuh pun akan melemah jika makanan hanya “seadanya”, tidak memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi.

Kemapanan finansial tentu adalah hal yang juga sangat penting, jika kita masih hidup sebagai manusia duniawi. Perawatan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan dasar non-pangan seperti listrik pun tidak mungkin bisa menyokong hidup kita jika kita tidak mampu membayarnya. Memiliki kemapanan finansial adalah sebuah keharusan jika kita ingin hidup tenang dan “teguh” di jaman modern ini.

Aspek-aspek eksternal mendasar tersebut terkokohkan juga akan membentuk keteguhan batin. Selain, keteguhan dan “pemagaran” batin juga perlu dibentuk tersendiri. Tanpa batin yang teguh dan kukuh dalam “kesadaran yang benar” maka bisa saja kemapanan eksternal yang sudah terbangun sebelumnya malah runtuh. Goyah secara emosional akan menggoyahkan kehidupan.

Tidak bisa menahan nafsu untuk berfoya-foya akhirnya harta-benda akan habis sia-sia. Akibatnya, temboh kokoh yang tadinya dibentuk malah akan runtuh. Karenanya bisa dikatakan bahwa keteguhan batin ini merupakan fondasi untuk kemapanan hidup, untuk pagĕh-nya Sang Hyang Hurip. Jika disimpulkan, Pagĕr Wĕsi menyampaikan pesan tentang “kemapanan hidup” dan “keteguhan kesadaran”. Keduanya adalah hasil usaha terus-menerus. Karenanya, Pagĕr Wĕsi jangan sekedar dilihat sebagai “hari suci” dan “ritual” semata, namun sebagai pesan yang maknanya perlu diaktualisasikan dalam kehidupan. Karena setelah aktualisasi pesan tersebut lah maka apa yang disimbolkan benar-benar bisa diwujudkan dan dialami dalam kehidupan.

Silahkan Share Tulisan Ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silahkan Masuk untuk mengakses materi eksklusif Gocara

Belum jadi member? Silahkan daftar di sini

Dukung Gocara

Berkembang Lebih Pesat

Dukung kami mengembangkan Pasraman Online Gocara dengan menjadi member atau melalui donasi anda.

Silahkan Isi Form dan Pilih Metode pembayaran anda

PERHATIAN: Nomor Virtual Account Pembayaran Hanya Berlaku Selama 24 Jam

Sudah jadi member? Silahkan Login