Saat Beragama di Tataran Kulit Saja Belum Tuntas

Beragama adalah aktifitas yang menyibukkan; sibuk dengan berbagai ritual, hari raya dan perayaan, sampai pada debat-debat kentang. Semakin seseorang terlibat dalam kesibukan-kesibukan ini, maka dia akan semakin dianggap beragama oleh sekitarnya. Karenanya, sering kali juga ini menjadi semacam rumusan — agar dianggap beragama, maka sibukkanlah diri dalam berbagai aktifitas religi ini.

Sering kali pula, karena saking sibuknya dengan aktifitas religi ini, maka esensi sesungguhnya dari agama kemudian dilupakan. Ibaratnya, sibuk menyiapkan sebuah perjalanan, lalu sampai lupa berjalan; sibuk melipat pakaian, mempersiapkan bekal, memeriksa barang bawaan, menentukan rute perjalanan, dan seterusnya, tapi hanya di tahap persiapan itu lah energi dihabiskan.

Dalam konteks Agama Bali, beragama adalah beryoga. Dengan demikian, aktifitas religi tidak lepas dari hal-hal esoterik dan mistik. Selayaknya ajaran yoga, dia bersifat “luar” dan “dalam” sekaligus, dan saling berkesinambungan antar keduanya. Rsi Patanjali dalam Yoga Sutranya pun menata yoga menjadi dua bagian, yaitu organ luar (bahirangga) dan organ dalam (antarangga).

Namun jika memakai kerangka berpikirPatanjali, memuja, ritual, dan sejenisnya bahkan belum bisa disebut sebagai organ luar, hanya pendampingan semata (kriya-yoga). Organ luar dalam Yoga Delapan Bagian (Astangga-yoga) dari Patanjali adalah tatanan perilaku dan cara hidup. Sedangkan organ dalamnya adalah praktik-praktik meditatif. Karena premis awal tulisan ini menyatakan bahwa “beragama Bali adalah sama dengan beryoga,” maka klasifikasi Patanjali ini pun bisa diberlakukan dalam aktifitas beragama, selain memang jika ditinjau dalam berbagai teks yang ada (misalkan teks Tattwa), kerangka berpikir ini pun memang lumrah di Bali.

Dari Tata Busana Menuju Tata Laksana

Istilah “meng-agama-kan kulit” ini adalah metafora yang digunakan untuk menunjukkan agama dan yoga sebagai “life-style.” Hal ini menunjukkan bagaimana seseorang menampilkan dirinya — mulai dari cara berpakaian sampai cara berperilaku.

Setiap agama, tradisi spiritual, dan sekte tertentu biasanya memiliki cara berpakaian khas masing-masing. Cara berpakaian khas ini membuat kita bisa membedakan antara seorang dari komunitas satu dengan orang dari komunitas lainnya. Cara berpakaian para “murid” dengan “guru” yang dimuliakan pun biasanya berbeda-beda — sehingga semakin kentara siapa yang “tokoh” dan siapa yang “orang biasa.”

Dalam konteks sosial, kita bisa mengamati dengan mudah saat seseorang mulai meng-agama-kan dirinya maka dia akan mulai merubah seragamnya. Cara berpakaian khas mulai ditunjukkan, lengkap dengan berbagai aksesoris yang terkadang tidak murah. Ada yang hitam-hitam loreng, ada yang putih-putih loreng, ada putih semua, ada yang kuning-kuning; ada yang memanjangkan rambut lalu dikuncir, ada yang menggunduli rambut kecuali bagian kuncir, dan seterusnya.

Tapi tatanan busana hanya lah bagian paling mudah dari agama, bagian lain yang lebih susah adalah tatanan laksana. Di tahap ini berbagai aturan bersikap, berbicara, sampai persoalan makan dan tidur pun ditata. Di tahapan ini agama (yoga) menjadi landasan etika berkehidupan. Hal ini merupakan sebuah karakteristik umum dalam teks-teks Yoga, baik India maupun Bali, dan demikian pula dalam teks-teks agama pada umumnya. Mulai dari Yoga Sutra Patanjali, Hathayoga Pradipika, sampai Bhagavad Gita, kita bisa menemukan anjuran-anjuran tentang “makan” dan “minum,” dan sebagainya. Tentu saja, anjuran lain seperti tidak boleh berbohong, tidak mengumbar nafsu, dan sejenisnya pun merupakan komponen tak terpisahkan.

Tapi jangan salah, “tata laku” tidak hanya mencakup “norma” dan “etika” ala “orang baik” yang biasa berlaku di masyarakat semata (bersifat normatif). Dalam tradisi Dharma (terutama dalam teks-teks Tantra), anjuran yang sifatnya anti-normatif pun ada. Dalam tradisi Nusantara, kita mengenal cerita tentang Gagakaking (normatif) dan Bhubuksah (anti-normatif). Namun, baik itu normatif maupun anti-normatif, keduanya tetap sebuah tatanan yang sudah ditentukan dalam tradisi bersangkutan.

Busana dan kulit saling berhubungan satu dengan yang lain. Artinya, jika kita memakai busana layaknya seorang brahmana, namun sikap dan perilaku kita masih jauh dari aturan ke-brahmana-an, itu artinya kita bahkan bahkan belum tuntas beragama di tataran kulit. Lalu bagaimana kita bisa bicara mengenai cahaya yang tersembunyi jauh di kedalaman gua hati, jika kulitnya saja belum bisa dilampai? Bagaimana menyelam ke samudera diri dan bertemu Sang Diri Sejati, jika kesibukan beragama di tataran kulit saja belum tuntas?

Beberapa waktu belakangan banyak kasus dan pemberitaan yang melibatkan para tokoh puncak agama — dalam semua agama. Terutama yang marak adalah kasus asusila (sila berarti perilaku, “su” berarti baik, dan “a” berarti tidak, jadi asusila berarti perilaku yang tidak baik). Tentu saja, baik tidak baiknya sebuah perilaku akan tergantung dari “busana” yang dikenakan — karena tiap busana akan menuntut tanggung jawab laksananya masing-masing. Jika sudah berani memakai busana kependetaan, maka tanggung jawab yang otomatis muncul adalah bisa bersikap sesuai dengan busana tersebut.

Saat seorang pendeta terlibat kasus pelecehan seksual, atau sengketa tanah, atau perilaku asusila lain, maka bisa dikatakan, membungkus dirinya dengan kulit kependetaan saja ia belum tuntas, baru hanya busananya saja. Namun celakanya, standar pentasbihan kesucian kita kadang sangat rendah — melihat seseorang berbusana layaknya orang suci, sudah cukup untuk membuat kita otomatis menjadikannya otoritas. Kita lupa dengan cerita Pendada Baka; ikan-ikan yang terlampau percaya dengan busana kependetaan Sang Bangau adalah sebab kematian mereka.

Terkait hal ini, salah satu favorit saya adalah diskursus yang termuat dalam Kakawin Jinarti Prakerthi, yang sudah saya tulisakan pula dalam Buku Ilmu Tantra Bali Volume 2, tentang “Keutamaan Seorang Pendeta.” Kakawin ini mengajak kita untuk menjadikan berbagai busana dan pernak-pernik keagamaan (kependetaan) agar melekat menjadi cara bersikap dan berperilaku.

Kulit Luar, Kulit Dalam

Menata perilaku baru kulit luar semata. Selayaknya kulit manusia yang memiliki bagian kulit dalam dan kulit luar, demikian pula hanya dengan yoga dan agama secara umum. Selain Yama dan Niayama, dalam Yoga Sutra Patanjali, organ luar yoga masih terdiri dari Asana, Pranayama, dan Pratyahara. Namun kita akan diskusikan aspek Pratyahara, yaitu menarik indera dari objek-objek kesenangannya. Jika meminjam senandung dari Mpu Kanwa dalam Kakawin Arjuna Wiwaha; tidak menjadikan objek kesenangan indera sebagai motivator gerak (tan sangkeng wisaya prayojana nira).

Dalam tahapan ini kita mulai dihadapkan pada tanggung jawab dan latihan untuk menata mental — mulai dari mengendalikan ke mana arus pikiran mengalir, apa yang tidak boleh dibatinkan, sampai apa-apa yang perlu disimpan dalam pikiran.

Esensi dari tahapan ini, sekali lagi, adalah menata arus perhatian kita — mengendalikan ke mana perhatian diarahkan. Jika dilihat esensinya, nyaris semua ajaran menganjurkan agar batin diarahkan pada pencapaian pencerahan spiritual (sesuai dengan makna spesifik dari istilah ini). Karena tujuan akhirnya adalah menyatu dengan Sang Kesejatian, maka pada-Nya lah perhatian diarahkan, dan pada saat yang sama, hal-hal yang mengalihkan perhatian kita dari-Nya pun perlu diredam dengan berbagai cara.

Jika perhatian kita mudah tersita oleh berbagai hal; mulai dari keindahan tubuh lawan jenis yang mudah mengindang birahi, sampai diskon belanja online plus bebas ongkir yang gampang membuat kita boros, berarti yoga kita di tahapan kulit belum tuntas.

Dari Luar Ke Dalam, Dari Dalam Ke Luar

Sebelum mengakhiri tulisan ini, ada dua poin yang perlu saya sampaikan. Pertama, tulisan ini (atau tulisan mana pun yang pernah saya buat), bukan lah bahan menghakimi orang lain, namun untuk melihat diri (dan orang lain) secara jujur. Menghakimi secara serampangan adalah sikap yang penuh kekerasan (himsa), sedangkan menilai dengan jujur adalah sikap yang dilandasi objektifitas (wiweka). Bahkan ini pun masih berkisar pada kulit-kulit yoga. Melihat diri (dan orang lain) secara objektif juga berarti kemauan dan kemampuan melihat sisi buruk dan tidak pantas di dalamnya.

Poin kedua, apa kah jika kita belum tuntas dengan organ luar maka kita dilarang menyentuh organ dalam dari ajaran-ajaran spiritual? Tentu tidak harus  diartikan demikian. Mengetahui bahwa spiritualitas adalah perjalanan dari luar ke dalam membuat kita memiliki peta dalam berjalan. Kita kemudian bisa menentukan sedang ada di mana, mau ke mana, dan akan berapa lama. Memposisikan diri dan orang lain secara jujur adalah titik awal berjalan.

Namun, terkait konteks ini, dibandingkan analogi “luar-dalam” saya lebih suka dengan hasil diskusi dengan rekan-rekan sepembelajaran di Singaraja beberapa tahun lalu; perjalanan spiritual adalah perjalanan melingkar, selayaknya membuat lingkaran di atas kertas dengan pena. Kita tidak berhenti hanya ketika lingkarannya sudah selesai segaris, namun terus menggambar lingkaran yang sama agar semakin tebal dan semakin tebal. Artinya, kita belajar menyempurnakan kulit, luar dalam, lalu beranjak ke organ dalam, sembari terus menyempurnakan aspek dari kulit yang belum sempurna tertanam.

Yoga terdiri dari organ (angga), bukan sebatas tahapan. Sebagai organ, masing-masing bagian bekerja secara berkesinambungan, saling mendukung satu dengan yang lain. Hanya karena kulit ada di luar, bukan berarti ia adalah bagian tubuh yang tidak penting; dan hanya karena jantung adalah organ vital, bukan berarti peranan usus, ginjal dan hati bisa diabaikan. Mengabaikan satu aspek tanpa menguatkan dan mensinergikannya dengan aspek lain ibarat fokus pada satu organ dan mengabaikan organ lain — yang akhirnya akan berdampak destruktif pada keseluruhan sistem.

Selain itu, berkaitan dengan poin pertama, kita juga tidak serampangan menilai diri dan orang lain sebagai ini dan itu. Bersikap jujur adalah salah satu bagian Yama-bratha, artinya masih salah satu kulit dalam yoga — salah satu implementasinya adalah bersikap jujur pada diri sendiri. Ini adalah aspek penting, jika memang kita konsen dengan kemajuan spiritual. Namun jika hanya ingin petantang-petenteng di sosial media, berebut pengakuan dan mengidamkan pengkultusan diri, tentu saja berhenti di tataran busana (ditambah kemampuan meramu cerita bombastis) sudah lebih dari cukup.

Silahkan Share Tulisan Ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silahkan Masuk untuk mengakses materi eksklusif Gocara

Belum jadi member? Silahkan daftar di sini

Dukung Gocara

Berkembang Lebih Pesat

Dukung kami mengembangkan Pasraman Online Gocara dengan menjadi member atau melalui donasi anda.

Silahkan Isi Form dan Pilih Metode pembayaran anda

PERHATIAN: Nomor Virtual Account Pembayaran Hanya Berlaku Selama 24 Jam

Sudah jadi member? Silahkan Login

error: Alert: Content is protected !!